Penganiayaan Menurut Hukum Islam

Dalam hukum Islam, tindak pidana atau delik disebut dengan “jarimah” atau “jinayah”. Menurut Imam al-Mawardi, jarimah adalah perbuatan-perbuatan yang dilarang oleh syara, yang diancam oleh Allah SWT dengan hukuman had atau ta’zir. Adapun kata “jinayah” menurut syariat Islam adalah segala tindakan yang dilarang oleh hukum syariat melakukannya. Perbuatan yang dilarang ialah setiap perbuatan yang dilarang oleh syara dan harus dihindari, karena perbuatan itu menimbulkan bahaya terhadap agama, jiwa, akal, harga diri, dan harta benda.

Tindak pidana atas selain jiwa (penganiayaan) seperti dikemukakan oleh Abdul Qadir Audah adalah setiap perbuatan menyakitkan yang mengenai badan seseorang, tetapi tidak mengakibatkan kematian. Termasuk di dalamnya ialah perbuatan melukai, memukul, mendorong, menarik, memeras, menekan, memotong rambut serta mencabutnya dan lain-lain.

Inti dari tindak pidana atas selain jiwa, seperti yang dikemukakan dalam pengertian di atas, adalah perbuatan menyakiti. Dengan demikian yang termasuk kategori pengertian menyakiti adalah setiap jenis pelanggaran yang bersifat menyakiti atau merusak anggota badan manusia, seperti pukulan, pelukaan, pencekikan, pemotongan dan penempelengan. Oleh karena sasaran dalam tindak pidana ini adalah badan atau jasmani manusia, Maka perbuatan yang menyakiti perasaan manusia tidak termasuk dalam definisi di atas.

Karena perasaan bukan jasmani dan sifatnya abstrak, tidak konkrit. Perbuatan yang menyakiti perasaan dapat dimasukkan pada tindak pidana penghinaan atau tindak pidana yang memiliki kualifikasi hukuman ta’zir.
Penganiayaan ialah perbuatan yang dilakukan oleh seseorang dengan sengaja atau tidak sengaja untuk melukai atau mencederai orang lain. Dalam surat al-Maidah ayat 45 dijelaskan:

Dan kami telah tetapkan terhadap mereka di dalamnya (At Taurat) bahwasanya nyawa (dibalas) dengan nyawa, mata dengan mata, hidung dengan hidung, telinga dengan telinga, gigi dengan gigi, dan luka-luka (pun) ada qisas-nya (balasan yang sama). Barangsiapa yang melepaskan (hak qisasnya), maka itu (menjadi) penebus dosa baginya. Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang zalim”(QS. Al-Maidah:45).


Berdasarkan QS Al-Maidah : 45 tersebut, dapat dipahami bahwa pidana pembunuhan dalam pengertian hanya melukai atau mencederai, maka sanksi terhadap pelakunya ialah qisas yang sebanding dengan perbuatannya. Begitu pula terhadap tindak pidana penganiayaan terdapat qisas di dalamnya. Dengan kata lain, tindak pidana penganiayaan termasuk dalam kategori tindak pidana yang dijatuhi hukuman qisas.

Dalam al-Mu’jam al-Mufahras li Alfâz Al-Qur’ân al-Karîm, kata qisas disebutkan dalam dua surat sebanyak empat ayat yaitu al-Baqarah ayat 178, 179, 194; dan dalam surat al-Ma’idah ayat 45. Secara etimologis, kata qisas dalam Kamus Al-Munawwir diartikan pidana qisas. Pengertian lain menyatakan bahwa qisas dalam arti bahasa adalah تتبع الاثر , artinya menelusuri jejak. Pengertian tersebut digunakan untuk arti hukuman, karena orang yang berhak atas qisas mengikuti dan menelusuri jejak tindak pidana dari pelaku. Qisas juga diartikan المماثلت , yaitu keseimbangan dan kesepadanan. Dari pengertian yang kedua inilah kemudian diambil pengertian menurut istilah.

Menurut istilah syara’, qisas adalah مجا زاة الجا ن بمثل فعله yang artinya memberikan balasan kepada pelaku, sesuai dengan perbuatannya. Dalam redaksi yang berbeda, Ibrahim Unais memberikan definisi qisas sebagai berikut.

Qisas adalah menjatuhkan hukuman kepada pelaku persis seperti apa yang dilakukannya. Secara terminologi masih banyak pengertian dari kata qisas di antaranya sebagai berikut:
  • Menurut Abdur Rahman I.Doi,

Qisas merupakan hukum balas dengan hukuman yang setimpal bagi pembunuhan yang dilakukan. Hukuman pada si pembunuh sama dengan tindakan yang dilakukan itu, yaitu nyawanya sendiri harus direnggut persis seperti dia mencabut nyawa korbannya. Kendatipun demikian, tidak harus berarti bahwa dia juga harus dibunuh dengan senjata yang sama.
  • Menurut Abdul Malik,

Qisas berarti memberlakukan seseorang sebagaimana orang itu memperlakukan orang lain.
  • Menurut HMK. Bakri,

Qisas adalah hukum bunuh terhadap barang siapa yang membunuh dengan sengaja yang mempunyai rencana lebih dahulu. Dengan perkataan yang lebih umum, dinyatakan pembalasan yang serupa dengan pelanggaran.
  • Menurut Haliman,

Qisas ialah akibat yang sama yang dikenakan kepada orang yang menghilangkan jiwa atau melukai atau menghilangkan anggota badan orang lain seperti apa yang telah diperbuatnya.
  • Menurut Ahmad Hanafi,

Qisas ialah agar pembuat jarimah dijatuhi hukuman (dibalas) setimpal dengan perbuatannya, jadi dibunuh kalau ia membunuh, atau dianiaya kalau ia menganiaya.

Berdasarkan beberapa rumusan tersebut, dapat disimpulkan bahwa qisas adalah memberikan perlakuan yang sama kepada terpidana sesuai dengan tindak pidana yang dilakukannya. al-Qur’an telah banyak menjelaskan tentang hukum-hukum pidana berkenaan dengan masalah-masalah kejahatan. Secara umum hukum pidana atas kejahatan yang menimpa seseorang adalah dalam bentuk qisas yang didasarkan atas persamaan antara kejahatan dan hukuman. Di antara jenis-jenis hukum qisas yang disebutkan dalam al-Qur’an ialah; qisas pembunuh, qisas anggota badan dan qisas dari luka. Semua kejahatan yang menimpa seseorang, hukumannya dianalogikan dengan qisas yakni didasarkan atas persamaan antara hukuman dengan kejahatan, karena hal itu adalah tujuan pokok dari pelaksanaan hukum qisas.

Qisas terbagi menjadi 2 macam yaitu;

  1. Qisas shurah, di mana hukuman yang dijatuhkan kepada seseorang itu sejenis dengan kejahatan yang dilakukan.
  2. Qisas ma’na, di mana hukuman yang dijatuhkan kepada seseorang itu cukup dengan membayar diyat.

Apa yang telah dijelaskan di atas, adalah hukuman kejahatan yang menimpa seseorang. Adapun kejahatan yang menimpa sekelompok manusia, atau kesalahan yang menyangkut hak Allah, maka al-Qur’an telah menetapkan hukuman yang paling berat, sehingga para hakim tidak diperbolehkan menganalogikan kejahatan ini dengan hukuman yang lebih ringan. Inilah pemikiran perundang-undangan yang paling tinggi, di mana Allah menetapkan hukuman yang berat dan melarang untuk dipraktekkan dengan lebih ringan. Hukuman yang telah ditetapkan al-Qur’an tersebut disebut dengan al-Hudud (jamak dari hadd) yang jenisnya banyak sekali, di antaranya ialah; hadd zina, hadd pencurian, hadd penyamun, hadd menuduh seseorang berbuat zina.

Dalam menetapkan hukum-hukum pidana, al-Qur’an senantiasa memperhatikan empat hal di bawah ini;

  1. Melindungi jiwa, akal, agama, harta benda dan keturunan. Oleh karena itu, Allah menjelaskan bahwa qisas itu dapat menjamin kehidupan yang sempurna, yang tidak dapat direalisasikan kecuali dengan melindungi jiwa, akal, agama, harta benda dan keturunan. Sebagaimana firman Allah SWT. : Artinya: “Dan dalam qisas itu ada (jaminan kelangsungan) hidup bagimu, hai orang-orang yang berakal, supaya kamu bertaqwa”. (QS. al-Baqarah: 179).
  2. Meredam kemarahan orang yang terluka, lantaran ia dilukai. Oleh karena itu, ia harus disembuhkan dari lukanya, sehingga ahli waris orang yang dibunuh mempunyai hak untuk mengqisas orang yang membunuh. Sebagaimana firman Allah SWT.: Artinya: “Dan barangsiapa dibunuh secara zalim, maka sesungguhnya Kami telah memberi kekuasaan kepada ahli warisnya, tetapi janganlah ahli waris itu melampaui batas dalam membunuh. Sesungguhnya adalah orang yang mendapat pertolongan”. (QS. al-lsra : 33).
  3. Memberikan ganti rugi kepada orang yang terluka atau keluarganya, bila tidak dilakukan qisas dengan sempurna, lantaran ada suatu sebab.
  4. enyesuaikan hukuman dengan pelaku kejahatan. Yakni jika pelaku kejahatan tersebut orang yang terhormat, maka hukumannya menjadi berat, dan jika pelaku kejahatan tersebut orang rendahan, maka hukumannya menjadi ringan. Karena nilai kejahatan akan menjadi besar bila dilakukan oleh orang yang status sosialnya rendah. Oleh karena itu, al-Qur’an menjatuhkan hukuman kepada budak separo dari hukuman orang yang merdeka.20 Sebagaimana firman Allah SWT. : Artinya: “Dan Barangsiapa diantara kamu (orang merdeka) yang tidak cukup perbelanjaannya untuk mengawini wanita merdeka lagi beriman, ia boleh mengawini wanita yang beriman, dari budak-budak yang kamu miliki. Allah mengetahui keimananmu; sebahagian kamu adalah dari sebahagian yang lain, karena itu kawinilah mereka dengan seizin tuan mereka, dan berilah maskawin mereka menurut yang patut, sedang merekapun wanita-wanita yang memelihara diri, bukan pezina dan bukan (pula) wanita yang mengambil laki-laki lain sebagai piaraannya; dan apabila mereka telah menjaga diri dengan kawin, kemudian mereka melakukan perbuatan yang keji (zina), Maka atas mereka separo hukuman dari hukuman wanita-wanita merdeka yang bersuami. (Kebolehan mengawini budak) itu, adalah bagi orang-orang yang takut kepada kemasyakatan menjaga diri (dari perbuatan zina) di antara kamu, dan kesabaran itu lebih baik bagimu. dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.(QS An-Nisa’ : 25)

Tindak pidana atas selain jiwa (penganiayaan) disengaja

Abdul Qadir Audah sebagaimana dikutip oleh Ahmad Wardi Muslich mengemukakan mengenai tindak pidana penganiayaan disengaja yaitu setiap perbuatan di mana pelaku sengaja melakukan perbuatan dengan maksud melawan hukum. Dari definisi tersebut dapat diambil suatu asumsi bahwa dalam tindak pidana atas selain jiwa dengan sengaja, pelaku sengaja melakukan perbuatan yang dilarang dengan maksud supaya perbuatannya itu mengenai dan menyakiti orang lain.

Tindak pidana atas selain jiwa (penganiayaan) tidak disengaja

Jika suatu perbuatan mengakibatkan kematian, perbuatan tersebut dianggap tindak pidana atas selain jiwa, yaitu pembunuhan secara tidak disengaja. Jika suatu perbuatan tidak mengakibatkan kematian, perbuatan tersebut dianggap tindak pidana penganiayaan.

Sedangkan yang dimaksud sebagai tindak pidana penganiayaan tidak sengaja ialah suatu perbuatan di mana pelaku sengaja melakukan perbuatan tetapi tidak bermaksud melawan hukum. Artinya pelaku dengan sengaja melakukan suatu perbuatan, tetapi perbuatan tersebut samasekali tidak dimaksudkan untuk menyakiti atau melukai orang lain, tetapi dalam kenyataannya terdapat korban atas perbuatannya itu.

Hukum Islam menjatuhkan hukuman terhadap tindak pidana penganiayaan ketika perbuatan tersebut terjadi secara tidak sengaja, dengan menyesuaikan akibat perbuatan yang ditimbulkan. Dengan demikian, hukuman atas orang yang menghilangkan anggota badan atau orang yang menghilangkan manfaatnya adalah lebih berat dibandingkan hukuman atas luka yang sembuh tanpa meninggalkan cacat. Hukuman atas orang yang menghilangkan penglihatan manusia itu lebih berat dibandingkan hukuman atas orang yang menghilangkan sebagian penglihatannya, demikian seterusnya.

Macam-macam Tindak Pidana Penganiayaan

Tindak pidana penganiayaan, secara umum dijelaskan oleh Firman Allah Swt QS. al-Ma’idah ayat 45:

Dan Kami telah tetapkan terhadap mereka di dalamnya (At Taurat) bahwasanya jiwa (dibalas) dengan jiwa, mata dengan mata, hidung dengan hidung, telinga dengan telinga, gigi dengan gigi, dan luka luka (pun) ada kisasnya. Barangsiapa yang melepaskan (hak kisas) nya, Maka melepaskan hak itu (menjadi) penebus dosa baginya. Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, Maka mereka itu adalah orang-orang yang zalim”. (QS. Al-Ma’idah : 45).

Adapun macam-macam jarimah penganiayaan, yaitu sebagai berikut:

  1. Memotong anggota tubuh atau bagian yang semakna dengannya.
  2. Menghilangkan fungsi anggota tubuh, walaupun secara fisik anggota tubuh tersebut masih utuh.
  3. Melukai di bagian kepala korban.
  4. Melukai di bagian tubuh korban.
  5. Melukai bagian-bagian lain yang belum disebutkan di atas.

Pertama, penganiayaan berupa memotong atau merusak anggota tubuh korban, seperti memotong tangan, kaki, atau jari; mencabut kuku; mematahkan hidung; memotong zakar atau testis; mengiris telinga; merobek bibir; mencungkil mata; melukai pelupuk dan bagian ujung mata; merontokkan dan mematahkan gigi; serta menggunduli dan mencabut rambut kepala, janggut, alis, atau kumis.

Kedua, menghilangkan fungsi anggota tubuh korban, walaupun secara fisik masih utuh. Misalnya, merusak pendengaran, membutakan mata, menghilangkan fungsi daya penciuman dan rasa, membuat korban bisu, membuat korban impoten atau mandul, serta membuat korban tidak dapat menggerakkan tangan dan kakinya (lumpuh). Tidak hanya itu, penganiayaan dari sisi psikis, seperti intimidasi dan teror, sehingga korban menjadi stres atau bahkan gila, juga termasuk ke dalam kategori ini.

Ketiga, penganiayaan fisik di bagian kepala dan wajah korban. Dalam bahasa Arab, terdapat perbedaan istilah antara penganiayaan di bagian kepala dan tubuh. Penganiayaan di bagian kepala disebut al-Syajjaj, sedangkan di bagian tubuh disebut al-Jirahah. Lebih jauh, Abu Hanifah secara khusus memahami bahwa istilah al-Syajjaj hanya dipakai pada penganiayaan fisik di bagian kepala dan wajah, tepatnya di bagian tulang, seperti tulang dahi, kedua tulang pipi, kedua tulang pelipis, dan tulang dagu. Abu Hanifah tidak menggunakan istilah ini untuk penganiayaan terhadap kulit kepala atau wajah. Sementara itu, ulama-ulama fiqh pada umumnya tidak hanya membatasi pada penganiayaan bagian tulang kepala dan wajah, tetapi semua jenis penganiayaan yang melukai bagian tersebut.

Dengan memerinci jenis-jenis luka di bagian kepala dan wajah, Abu Hanifah mengemukakan sebelas istilah yang berbeda satu sama lain, yaitu sebagai berikut:

  1. Al-Kharisah, yaitu pelukaan pada bagian permukaan kulit kepala yang tidak sampai mengeluarkan darah.
  2. Al-Damiyyah, yaitu pelukaan yang berakibat darah mengucur keluar cukup deras.
  3. Al-Badi’ah, yaitu pelukaan yang berakibat terkoyaknya atau terpotongnya daging di bagian kepala korban.
  4. Al-Mutalahamah, yaitu pelukaan yang berakibat terpotongnya daging bagian kepala lebih banyak dan lebih parah dibanding pada kasus al-Badi’ah. Dua istilah terakhir ini memang sangat mirip, sehingga Muhammad bin Yusuf al-Syaibani menganggap bahwa al-Badi’ah lebih parah daripada Al-Mutalahamah. Menurutnya, al-Badi’ah ialah pelukaan yang dapat mengoyak daging, mengeluarkan darah, dan bekas lukanya berwarna hitam.
  5. Al-Samhaq, yaitu pelukaan yang berakibat terpotongnya daging hingga tampak lapisan antara kulit dan tulang kepala. Istilah ini disebut juga al-Syajjah.
  6. Al-Mudihah, yaitu pelukaan yang lebih parah daripada al-Samhaq. Tulang korban mengalami keretakan kecil, seperti goresan jarum.
  7. Al-Hasyimah, yaitu pelukaan yang berakibat remuknya tulang korban.
  8. Al-Manqalah, yaitu penganiayaan yang mengakibatkan tulang korban menjadi remuk dan bergeser dari tempatnya semula.
  9. Al-Amah, yaitu penganiayaan yang mengakibatkan tulang menjadi remuk dan bergeser, sekaligus tampak lapisan tipis antara tulang tengkorak dan otak.
  10. Al-Damighah, yaitu penganiayaan yang lebih parah daripada Al-Amah. Lapisan tipis antara tulang tengkorak dan otak menjadi robek dan menembus otak korban.

Keempat, penganiayaan. di bagian tubuh korban. Jenis yang disebut dengan istilah Al-Jarh ini, terdiri atas dua macam, yaitu al-Ja’ifah dan Ghair Al-Ja’ifah. Maksud dari al-Ja’ifah ialah pelukaan yang menembus perut atau dada korban. Adapun yang disebut dengan Ghair al-Ja’ifah ialah semua jenis pelukaan yang tidak berhubungan dengan bagian dalam tubuh korban.

Kelima, penganiayaan yang tidak termasuk ke dalam empat kategori di atas. Penganiayaan ini tidak mengakibatkan timbulnya bekas luka yang tampak dari luar; tetapi mengakibatkan kelumpuhan, penyumbatan darah, gangguan saraf, atau luka dalam di bagian organ vital.
Loading...