Biografi Pengarang kitab Fadhail al-Awqaat

Nama lengkap penulis kitab Fadhail al-Awqaat adalah Ahmad ibn al-Husain ibn ‘Ali ibn ‘Abdullah ibn Musa. Kunyah beliau adalah Abu Bakar dan dijuluki dengan gelar al-Hafidz, lebih dikenal lagi dengan Imam al-Hafizh Ahmad ibn Husain ibn Ali, alias Abu Bakar. Beliau merupakan ahli hadis, lebih lengkapnya lagi Abu Bakar Ahmad ibn al-Husain ibn ‘Aliy ibn ‘Abdullah ibn Musa al-Baihaqi.


Imam Baihaqi dilahirkan pada tahun 384 H di bulan Sya’ban di Khusraujird, sebuah desa kecil di pinggiran kota Baihaq, Nisabhur. Baihaq adalah salah satu daerah yang terletak di Naisabur. Sedangkan Naisabur adalah salah satu kota utama wilayah Khurasan (Afghanistan) yang banyak menghasilkan ulama. Naisabur pertama kali dikuasai umat Islam pada masa Umar ibn al-Khattab di bawah panglima al-Ahnaf ibn Qays.


Pada masa hidup al-Baihaqi, wilayah Khurasan dikuasai oleh dinasti Ghaznawiyah (999-1040). Dinasti Ghaznawiyah terbentuk pada tahun 366 H/976 M dan berakhir pada tahun 579 H/1183 M. dinasti ini mempunyai peranan penting dalam melakukan islamisasi pada anak benua India (Afghanistan, India, Pakistan) dan Transaxonia.


Al-Baihaqi hidup pada masa dis-integrasi setelah dinasti Abbasiyah mengalami penurunan, dan banyak daerah yang melepaskan diri serta membentuk kerajaan-kerajaan kecil, dimana era disintegrasi daulat Abbasiyah menampakan dua kecenderungan yang dominan. Pertama, merupakan kecendrungan Abbasiyah yang mengarah pada dua percabangan kosmopolitan Islam dan kultur keagamaan Islam. Ketika seni dan arsitektur, syair, sains, dan bentuk-bentuk tertentu dari literature prosa merupakan ekspresi elit istana, rezim, dan elite sejumlah kajian keagamaan Islam.


Kedua, mengarah pada keragaman yang bersifat regional. Ketika Abbasiyah semakin lemah, Samarkand dan Bukhara, Naisabur dan Isfahan, Kairo Fez, dan Cordoba menjadi kota-kota baru bagi peradaban Islam. Dengan menggantikan kedudukan kultur kosmopolitan tunggal yang dikembangkan oleh Abbasiyah, maka masing-masing kota besar tersebut melahirkan corak khusus yang berkenaan dengan motif-motif Islam dan warisan lokal.


Imam Baihaqi tumbuh dewasa di kota Khusraujird, di mana di desa tersebut beliau mulai belajar ilmu qiraah, menghapal al-Qur’an, dan mempelajari hal-hal yang mudah dari Ilmu Syari’at yang terkenal pada zamannya dari masjid ke masjid, beliau adalah seorang yang sangat bersunguhsungguh dan tekun dalam menuntut ilmu kepada guru-guru di desanya. Belia mulai mempelajari dan mendalami hadis sejak berusia 15 tahun, dengan cara menulisnya kemudian menghapalnya sehingga beliau mendalami dan mengusai hukum-hukum syar’i.


Menurut al-Subkiy, al-Baihaqi adalah seorang imam kaum Muslimin, pemberi petunjuk orang beriman, da’i yang mengajak kepada agama Allah yang kokoh, seorang faqih mulia, hafiz kabir, ahli usul yang cerdas, zahid, wara’, merendahkan diri untuk Allah, pembela madzhab Syafi’i dalam hal ushul maupun furu’-nya. Ia belajar fiqih dari Nashir al-‘Umari dan belajar ilmu kalam Madzhab al-Asy’ari. Beliau bekerja keras mengarang berbagai macam kitab. Beliau adalah ahli hadis yang paling cakap yang mampu menyatukan perbedaan faham. Beliau cepat dalam memahami dan memiliki potensi kecerdasan yang sangat baik.


Imam Baihaqi pindah ke sebuah kota yang bernama Baihaq dan kemudian menetap di kota tersebut, Baihaq adalah kota terbesar dan terluas di Khusraujird. Di kota tersebut beliau bergaul dengan para ulama dan mengambil ilmu dari para ulama tersebut.


Setelah dewasa, beliau meninggalkan Baihaq dan berkelana menuntut ilmu dari satu kota ke kota lainnya, seperti: Baghdad, Kufah, Mekah, dan kotakota lainnya. Perjalanan Imam Baihaqi dalam menuntut ilmu ke berbagai kota dan berbagai daerah, beliau menemui guru-gurunya di berbagai kota dan berbagai daerah untuk menuntut ilmu serta berkonsentrasi dan terfokus dalam mempelajari sanad-sanad ‘ali, selain itu juga beliau berkelana pergi ke Irak, kota-kota sekitar Irak (al-Jibal), dan ke Hijaz untuk belajar ilmu kepada para ulama. Di antara ilmu yang dikuasai oleh al-Baihaqi antara lain adalah ilmu hadis, ‘ilal al-hadis, dan fiqih. Setelah sekian lama beliau melakukan perjalanan dari kota ke kota dan dari daerah ke daerah untuk menuntut ilmu dari guru-gurunya, Imam Baihaqi kembali lagi ke kota asalnya.


Di antara para ulama yang menjadi guru dari al-Baihaqi adalah:

  1. Al-Hakim an-Naisaburi. Imam ahli hadis pada masanya. Penyusun kitab “al-Mustadrak ‘ala al-Sahihain” dan kitab “‘Ulum al-Hadis”, “al-Madkhal ila Ma’rifat al-Iklil”, “Manaqib al-Syafi’I” dan sebagainya. Al-Hakim merupakan guru al-Baihaqi di bidang hadis yang paling utama.
  2. Abu al-Hasan Muhammad ibn al-Husain al-‘Alawi al-Husna al- Naisaburi. Seorang syaikh yang mulia, pandai, dan salih. Ia adalah guru al-Baihaqi yang paling tua. Wafat pada bulan Jumadil Akhir tahun 401 H.
  3. Abu Abdurrahman al-Sullami Muhammad ibn al-Husain ibn Musa al-Azadi al-Naisaburi (303-412 H). Seorang hafiz, ‘alim, zahid, syaikh sufi. Penyusun kitab “Tabaqat al-Sufiyah”.
  4. Abu Sa’ad ‘Abd Malik ibn Abi ‘Usman al-Khurkusi al-Naisaburi. Ia adalah seorang tsiqah, wara’ dan salih. Ia menyusun kitab Tafsir yang besar, dan kitab “Dalail al-Nubuwah”, serta kitab “al-Zuhd”. Meninggal pada bulan Jumadil al-Ula tahun 407 H.
  5. Abu Ishaq al-Tusi Ibrahim ibn Muhammad ibn Ibrahim. Wafat bulan Rajab tahun 411 H.
  6. Abu Muhammad ‘Abdullah ibn Yusuf ibn Ahmad al-Ashfahaniy.
Seorang tokoh tasawwuf dan ahli hadis yang tsiqah. Al-Baihaqi paling banyak meriwayatkan hadis darinya.

Adapun para murid al-Baihaqi antara lain :

  1. Abu ‘Abdullah al-Farawi Muhammad ibn al-Fadhl
  2. Abu Muhammad ‘Abdu al-Jabbar ibn Muhammad ibn Ahmad al-Baihaqi al-Khuwari.
  3. Abu Nashr ‘Ali ibn Mas’ud ibn Muhammad al-Syuja’i
  4. Zahir ibn Thahir ibn Muhammad
  5. Abu Abdullah ibn Abi Mas’ud al-Sha’idi
  6. Abu al-Ma’ali Muhammad ibn Ismail ibn Muhammad ibn al-Husaiyn al-Farisiy al-Naisaburi
  7. Al-Qadhi Abu ‘Abdullah al-Husain ibn ‘Ali ibn Fathimah al-Baihaqi
  8. Ismail ibn Ahmad al-Baihaqi, anak penyusun kitab Fadhail al-Awqaat
  9. Abu al-Hasan ‘Abdullah ibn Muhammad ibn Ahmad, cucu laki-laki Imam Baihaqi
  10. Al-Hafiz Abu Zakariya Yahya ibn ‘Abd al-Wahhab ibn Muhammad ibn Ishaq ibn Mundah al-‘Abdi al-Asbahani.
Tentang keistimewaan penulis kitab ini, Imam al-Haramain berkata:

Tidak ada seorang ulama penganut Mazhab Syafi’I yang tidak hanya menerima jasa Imam Syafi’i tapi juga berjasa kepadanya selain Baihaqi. Dia sangat berjasa kepada Imam Syafi’I dikarenakan banyaknya karya yang ia tulis untuk menyebarkan dan menjelaskan Mazhab Syafi’i.

Sementara Imam adz-Dzahabi berkata: “Seandainya Baihaqi ingin mendirikan mazhab sendiri dan leluasa berijtihad di dalamnya, niscaya ia mampu mewujudkan hal itu dengan keluasan ilmunya dan kedalaman pemahamannya tentang masalah ikhtilaf (perselisihan pendapat).

Kredibilitas imam al-Baihaqi di mata para ulama bisa dilihat dari berbagai komentar yang ditujukan kepadanya. Di antara berbagai komentar terhadap al-Baihaqi tersebut adalah sebagai berikut:

  1. Yaqut al-Himawy: “ al-Baihaqi adalah Imam, hafiz, ahli dalam usul al-Din, wara’, mempersatukan masa dengan agama yang kokoh. Murid Abu ‘Abdullah al-Hakim yang akhir, tetapi mampu melebihi yang lainnya dalam penguasaan ilmu.
  2. Ibn Nashir, “Ia adalah tokoh pada zamannya. Sulit dicarikan bandingan dalam hafalan, keteguhan dan ketsiqahan. Dia adalah syaikh Khurasan.
  3. Ibn al-Jauzi: “Ia adalah tokoh pada zamannya dalam hal hafalan dan keteguhan, pengarang yang baik. Ia mengumpulkan ‘Ulum al-Hadis dan usul. Ia adalah murid utama Abu ‘Abdullah al-Hakim. Dari al-Hakim ia mentakhrijkan hadis, melakukan perjalanan dan mengumpulkan banyak ilmu. Ia juga memiliki banyak karya tulis yang baik”.
  4. Ibn Khalikan: “Ahli Fikih mazhab Syafi’i. hafiz kabir yang masyhur, tokoh zamannya, mengatasi koleganya dalam penguasaan ilmu, murid al-Hakim yang utama dalam hadis”.
  5. Al-Sam’ani: “Ia adalah Imam, faqih, dan hafiz. Ia mempertemukan antara ilmu hadis dengan pemahaman hadis”.
  6. Ibn al-Asir: “Ia adalah imam dalam hadis, dan ahli fiqih mazhab Syafi’i.
Al-Baihaqi banyak menulis buku, bahkan dikatakan sampai seribu juz. Karya-karyanya meliputi bidang hadis, fikih dan ‘Aqaid. Di antara karyakarya al-Baihaqi adalah sebagai berikut:

  • As-Sunan al-Kubra
  • Ma`arifat as-Sunan wa al-Atsar
  • Bayan al-Khata Man Akhta`a `Ala al-Shafi`i
  • Al-Mabsut
  • Al-Asma’ wa ash-Sifat
  • Al-I`tiqad `ala Madhhab al-Salaf Ahl al-Sunna wa al-Jama`a
  • Dalail al-Nubuwwah
  • Syu`ab al-Iman
  • Al-Da`wat al-Kabir
  • Al-Zuhd al-Kabir
  • Al-Arba`un al-Sughra
  • Al-Khilafiyyat
  • Fadha’il al-Awqaat
  • Manaqib al-Shafi`i
  • Manaqib al-Imam Ahmad
  • Tarikh Hukama al-Islam
Pada tanggal 10 Jumadil Ula 458 H Imam Baihaqi telah berpulang ke rahmatullah di Naisabur, dan dimakamkan di kota asalnya, Baihaq.