Sejarah Filsafat Islam

Sejarah Filsafat Islam – Sejarah filsafat bermula di pesisir Samudera Mediteranian bagian Timur pada abad ke-6 SM. Menurut Majid Fakhry, sejak semula filsafat ditandai dengan rencana umat manusia untuk menjawab persoalan seputar alam, manusia, dan Tuhan. Itulah sebabnya filsafat pada gilirannya mampu melahirkan sains-sains besar, seperti fisika, etika, matematika, dan metafisika yang menjadi batu bata kebudayaan dunia (Fakhry 2001:1).

Sejarah Filsafat Islam

Dalam hubungan ini, ketika dihubungkan dengan hukum Islam, maka filsafat yang menjadi fokus perhatian adalah tentang Tuhan, khususnya mengkaji tentang ketentuan-ketentuan Tuhan yang dibuat-Nya untuk manusia (hamba-Nya).

Dari Asia Minor, kepulauan yang terletak antara Samudera Mediterania dan laut Hitam, filsafat menyeberangi Aegean, menuju tanah Yunani. Untuk ribuan tahun lamanya, Athena menjadi tanah air filsafat. Ketika Iskandariyah didirikan oleh Iskandar Agung pada 332 SM, filsafat mulai merambah dunia Timur, dan berpuncak pada tahun 529 M.

Pada tahun itu, kata Majid Fakhry, demikian juga al-Ahwani, Kaisar Bizantium, Justianus menutup sekolah-sekolah tinggi filsafat di Athena dan mengusir semua filosof dari daerah tersebut, karena ajaran filosof menurutnya bertentangan dengan ajaran Kristen. Sebagai pembela Kristen Ortodoks, Justianus menganggap paganisme sebagai ancaman bagi eksistensi agama Kristen. Tujuh guru filsafat paling terkemuka, dipimpin oleh Damascius (w. 553) dan Simplicus (w. 533), lari menyeberang perbatasan Bizantium, menuju Persia. Di sana, para guru filsafat ini disambut hangat oleh Chosroes I (Anushirwan) yang begitu mengagumi filsafat dan sains Yunani. Sekitar 555 M, Choroes I mendirikan Sekolah Jundishapur sebagai pusat studi Hellenik dan riset kedokteran.

Namun demikian, transformasi filsafat Yunani yang paling radikal, kata Majid Fakhry, terjadi di Iskandariah, bukan di Jundishapur. Di Iskandariah ini, filsafat menjadi benar-benar mendunia. Kecenderungan religius dan mistisnya malah hampir-hampir tak dikenal oleh orang-orang Yunani terdahulu. Oleh karenanya, nama-nama yang dikaitkan dengan filsafat Iskandariah atau Hellenistik umumnya adalah Plotinus (w. 270 M), Porphyry dari Tyre (w. 303 M), dan Jamblichus (w. 330 M) yang seluruhnya hidup dan besar pada zaman Iskandar Agung. Para filosof inilah yang disinyalir mengisi wajah baru filsafat Yunani. Sebagai contohnya, Neoplatonisme berhasil memadukan semua arus filsafat Yunani klasik, seperti Platonisme, Aristotelianisme, Phytagoreanisme, dan Stoisme dalam suatu sintesis yang mengagumkan (Fakhry 2001:2).

Ketika Mesir takluk di bawah orang-orang Arab pada tahun 641 M, Iskandariah tetap berkembang sebagai pusat filsafat, kedokteran, dan sains Yunani. Juga, teologi Kristen-Hellenistik yang berdampak luas pada perkembangan filafat dan teologi Muslim di kemudian hari. Sebagai akibat dari penaklukan wilayah Mesir oleh orang-orang Arab ini, maka tren kebudayaan dan pemikiran bergerak ke arah Timur. Berawal dari Damaskus pada masa Dinasti Umayyah (661-750), dan berlanjut sampai ke Baghdad pada masa Dinasti Abbassiah (750-1258 M).

Jadi penaklukan Iskandariah pada tahun 641 oleh orang-orang Arab merupakan momentum berharga bagi bangsa Arab untuk bersentuhan langsung dengan peradaban Yunani. Sebagaimana diketahui, kawasan Timur Tengah, seperti Mesir, Suriah, dan Irak ketika diperintah oleh Iskandar Agung tak ubahnya seperti zaman peradaban Yunani. Pada masa Ptolemy I, Mesir -terutama Iskandariah— merupakan kota ilmu dan sains yang menggantikan posisi Athena. Iskandariah menjelma sebagai pusat bergelutnya pemikiran spekulatif Yunani dengan berbagai tradisi keagamaan dan mistis Mesir, Pheonisia, dan Pesia, serta Yahudi dan Kristen.

Hasil utama dari pergulatan tersebut adalah berkibarnya Neoplatonisme yang dipelopori oleh Plotinus (w. 270) dan murid tersohornya, Porphyry (w. 303) (al-Ahwani 1997:28-29). Neoplatonisme memompa semangat baru filsafat Yunani yang secara cerdas memadukan aliran-aliran besar dalam pemikiran Yunani klasik, seperti Platonisme, Aristotelianisme, Pythagoreanisme, dan Stoisisme dalam wacana keagamaan dan mistis Timur.

Tidak mengherankan apabila filosof Muslim berhasil menyedot imajinasi para Neoplatonisme. Buktinya, naskah penting filsafat yang pertama kali diterjemahkan ke dalam bahasa Arab adalah parafrase dari tiga bab terakhir (IV, V dan VI) karya Plotinus, Enneads (Sembilan) (al-Ahwani 1997:28-29). Karya ini dikumpulkan dan disusun oleh Phophyry menjadi enam jilid. Tiap-tiap jilid terdiri atas sembilan bab, sesuai dengan judul bukunya, yang dalam bahasa Yunani berarti Sembilan.

Dalam terjemahan bahasa Arab, parafrase itu diberi judul Athulugia (berarti teologi) atau Kitab al-Rubûbiyyah (Kitab Ketuhanan). Penerjemahnya, Abd Al-Masîh Ibn Nâ’imah asal Edessa (w. 835), secara keliru menisbahkannya kepada Aristoteles. Meskipun pengarang aslinya yang diperkirakan berkebangsaan Yunani tak dikenal, opini para terpelajar masa kini cenderung menganggapnya sebagai karya murid dan editor Plotinus, Porphyry (al-Ahwani 1997:56; Fakhry 2001:50).