Pengertian Rezeki

Para Ulamȃ dan pemikir Muslim agaknya terlupa pada suatu konsep penting dalam al-Qur‟an yang semestinya mendapat perhatian serius dewasa ini, dimana sektor ekonomi merupakan primadona dalam arus perubahan sosial maupun pemikiran. Konsep itu adalah “rizq”. Di sini tidak dimaksudkan bahwa istilah “rizq” tidak pernah disebut-sebut dalam pembahasan. Malah sebaliknya, ia mungkin disebut berulang kali dalam sebuah artikel atau buku. Tetapi pengertiannya tidak dibahas secara mendalam, malah dilewatkan begitu saja seolah-olah ia bukanlah suatu istilah yang penting.

Pengertian Rezeki


Ini dibuktikan dari jarangnya istilah itu dicantumkan dalam indeks berbagai buku penting oleh penulis ternama. Barangkali sebabnya adalah istilah “rizq” atau sehari-hari disebut dengan istilah “rezeki” sudah menjadi istilah keseharian sehingga itu terkesan sepele. Kalau demikian halnya, maka terhadap pengertian rezeki perlu dilakukan aktualisasi dalam konteks kehidupan yang makin diwarnai oleh arus pemikiran dewasa ini.[1] Pengertian riba maupun zakat sebenarnya berasal dari atau mendasarkan diri dari asumsi-asumsi yang dapat ditarik dari teori tentang rezeki.[2]

Kata ar-rizq dengan harakat kasrah merupakan pemberian yang didapat, baik dalam bentuk duniawi maupun ukhrawi. Terkadang ar-rizq juga digunakan untuk peruntungan dan makanan yang dikonsumsi. Bentuk pluralnya al-Arzȃq.

Sementara ar-razq dengan harakat fathah adalah masdar. Bentuk tunggalnya al-Razaqah dan bentuk pluralnya al-Razaqȃh.[3] Contoh, “Ȃ‟tha al-Sulṭȃn rizq al-jund” (Sultan memberikan bantuan dana kepada pasukan). “Ruziqtu „Ilma” (aku mendapat pengetahuan). Firman Allah, Dan belanjakanlah sebagian dari apa yang telah kami berikan kepadamu. Kekayaan, kedudukan dan pengetahuan.
Firman Allah QS.Qȃf ayat 11:

Untuk menjadi rezeki bagi hamba-hamba (Kami), dan Kami hidupkan dengan air itu tanah yang mati (kering). Seperti itulah terjadinya kebangkitan”.

yang dimaksud ayat tersebut adalah makanan. Sangat mungkin untuk melakukan generalisasi dengan mengumumkan rezeki meliputi makanan, pakaian dan semua yang digunakan.

Pendapat lain menyebutkan maksudnya adalah pemberian yang bersifat ukhrawi. Selain ayat di atas, Allah juga berfirman dalam QS.Al-Hijr ayat 20:

Dan Kami telah menjadikan untukmu di bumi keperluan-keperluan hidup, dan (Kami menciptakan pula) makhluk-makhluk yang kamu sekali-kali bukan pemberi rezeki kepadanya”.

Rezeki telah ditetapkan semenjak manusia berada diperut ibunya, tetapi Allah SWT tidak menjelaskan secara detail. Tidak ada seorang manusiapun yang mengetahui pendapatan rezeki yang akan ia peroleh pada setiap harinya ataupun selama hidupnya. Ini semua mengandung hikmah sebagaimana yang dijelaskan dalam firman Allah: ¨

Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang hari Kiamat;dan Dialah yang menurunkan hujan dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. Dan tidak ada seorangpun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diperolehnya besok. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.”.


Dalam Alquran istilah “rizq” dengan perubahan katanya atau taṣrifnya, disebut sebanyak 112 kali dalam 41 surat. Lokus yang terbanyak memuat kata itu adalah surat al-Baqarah (12 kali), an-Nahl (9 kali), dan Saba‟(7 kali). Jumlah semua ayat-ayat Alquran tentang rezeki yaitu 92 ayat.[4]

Rujukan

[1] Dawam Rahardjo, Ensiklopedi Alquran, (Jakarta: paramadina, 1996), cet.I, h.574
[2] Rahardjo, Ensiklopedi Alquran…,h.575
[3] Mahmud Yunus, Kamus Arab Indonesia, (Jakarta: PT.Mahmud Yunus wa ḍurriyyah, 2010)
[4] Azharuddin Sahil, Indeks Alqurȃn, (Bandung: Mizan, 1994), cet I, h. 508-510.