Ciri-ciri Filsafat

Dari begitu banyak definisi yang dikutip, apakah ciri utama filsafat yang tetap hadir? Ciri itu adalah bahwa filsafat adalah upaya manusia untuk mendapatkan hakikat segala sesuatu. Apakah setiap upaya manusia menjawab persoalan hidup dapat dikatakan berfilsafat? Tentu tidak.

Ada tiga ciri utama hingga upaya itu dapat dikatakan filsafat:
  1. Universal (menyeluruh), yaitu pemikiran yang luas dan tidak aspek tertentu saja.
  2. Radikal (mendasar), yaitu pemikiran yang dalam sampai kepada hasil yang fundamental dan essensial.
  3. Sistematis, yaitu mengikuti pola dan metode berpikir yang runtut dan logis meskipun spekulatif.

Beberapa penulis menambahkan ciri-ciri lain, yaitu:
  1. Deskriptif, yaitu suatu uraian yang terperinci tentang sesuatu, menjelaskan mengapa sesuatu berbuat begitu.
  2. Kritis, yaitu mempertanyakan segala sesuatu (termasuk hasil filsafat), dan tidak menerima begitu saja apa yang terlihat sepintas, yang dikatakan dan yang dilakukan masyarakat.
  3. Analisis, yaitu mengulas dan mengkaji secara rinci dan menyeluruh sesuatu, termasuk konsep-konsep dasar yang dengannya kita memikirkan dunia dan kehidupan manusia.
  4. Evaluatif, yaitu dikatakan juga normatif, maksudnya upaya sungguhsungguh untuk menilai dan menyikapi segala persoalan yang dihadapi manusia. Penilaian itu bisa bersifat pemastian kebenaran, kelayakan dan kebaikan.
  5. Spekulatif, yaitu upaya akal budi manusia yang bersifat perekaan, penjelajahan dan pengandaian dan tidak membatasi hanya pada rekaman indera dan pengamatan lahiriah.
Kegiatan berfilsafat manusia, sebagaimana telah diuraikan, adalah upaya pencaharian manusia untuk menjawab berbagai permasalahan yang dihadapi secara mendalam dan menyeluruh. Apakah ciri-ciri permasalahan filosofis? Perhatikanlah pertanyaan-pertanyaan berikut ini:
  1. Pada temperatur berapa air membeku?
  2. Apakah nama ibukota negeri Saudi Arabia?
  3. Siapakah yang menjadi Presiden Pertama RI?
  4. Apakah teori atom ada gunanya dalam menjelaskan proses fotosintesis?
  5. Apakah agama itu?
  6. Apakah tanggungjawab moral sejalan dengan determinisme yang diperpegangi sebagian besar penelitian ilmu alam?

Dari enam pertanyaan di atas, tiga pertanyaan pertama jelas bukan permasalahan filosofis. Hampir setiap orang cepat menandai bahwa pertanyaan pertama masuk wilayah ilmu fisika, pertanyaan kedua geografi dan yang ketiga ilmu sejarah. Jika kita ingin mendapatkan jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan seperti kita tentunya, akan menemui ahli fisika, ahli geografi dan sejarawan atau pakar dari berbagai cabang ilmu.

Pertanyaan keempat mungkin agak meragukan. Apakah ini pertanyaan untuk seorang botanis, ahli ilmu tumbuh-tumbuhan, atau untuk seorang pakar fisika? Kita mungkin tidak merasa pasti. Tetapi, kita dapat memastikan dan menandai bahwa ini adalah pertanyaan tentang ilmu. Keraguan kita bahwa kita tidak pasti tentang disiplin ilmu mana yang paling tepat menangani permasalahan ini. Untuk itu, barangkali kita sebut saja ini pertanyaan antar atau inter-disipliner.

Pertanyaan kelima dan keenam menyodorkan gambaran baru. Pertama, tampaknya tidak ada disiplin yang berkompeten menangani masalah agama secara menyeluruh dan mendalam. Apalagi masalah moral dan paham determinisme. Mungkin kita bisa mengatakan bahwa pertanyaan “apakah agama itu?” bisa dijawab oleh psikologi, antropologi, sosiologi, arkeologi atau atau bahkan oleh ekonomi dan filologi. Tetapi, jawaban mereka terbatas pada aspek tertentu dan dengan metode tertentu saja. Contohnya, Psikologi akan meniliknya dari sudut ilmu jiwa;, sedangkan sosiologi dari aspek interaksi dan dampak sosialnya. Demikian juga halnya dengan ilmu-ilmu lainnya. Dus, salah satu dari ciri khas
pertanyaan filosofis adalah bahwa pertanyaannya tidak termasuk dalam wilayah keahlian ilmu-ilmu khusus, atau bahkan tidak termasuk dalam kombinasi wilayah beberapa ilmu. Ringkasnya, pertanyaanpertanyaan filsafat bukanlah secara langsung bersifat keilmuan dan juga bukan antar-keilmuan.

Kedua, Gambaran lainnya adalah bahwa kita tidak bisa langsung membayangkan apa jenis pembuktian (evidence), jika memang ada, yang relevan untuk menjawabnya. Mengenai pertanyaan kelima, contohnya, kita menyangka bahwa penemuan tertentu dalam ilmu-ilmu psikologi, sosiologi, arkeologi, antropologi dan sejarah mungkin relevan. Tetapi yang mana? Dan bagaimana caranya kita menghimpun data yang relevan itu? Ini adalah pertanyaan-pertanyaan yang terus menggayuti, dan inilah ciri dari pertanyaan filsafat yang menantang manusia yang sadar.

Ketiga, pertanyaan filsafat adalah pertanyaan yang jawabannya kemungkinan besar mempunyai konsekuensi yang dalam dan dampak yang luas bagi keseluruhan pandangan dunia kita. Jawaban apapun yang diberikan mempunyai implikasi yang menyentuh banyak bidang perhatian manusia. Misalnya, jika dalam pertanyaan keenam kita memutuskan bahwa determinasi tidak cocok dengan kebebasan moral, dan bahwa determinisme itu benar, maka kita tentu harus menanyakan apa konsekuensinya bagi pandangan kita tentang tanggung jawab moral manusia, bagi sistem pidana, bagi kedudukan hukum, bagi tingkah laku diplomasi internasional, dan bagi perkiraan tingkah laku kita dan manusia lainnya.

Kita bisa terus memperpanjang daftar bidang-bidang kehidupan manusia, baik secara langsung maupun tidak langsung, terkait dengan jawaban apa saja yang diberikan pada pertanyaan ini. Poin yang sama timbul bagi permasalahan filosofis lain yang telah dipikirkan dan diperdebatkan berabd-abad lamanya. Tetapi barangkali satu contoh sederhana itu bisa memadai. Pertanyaan filosofis adalah pertanyaan yang jawabannya berkemungkinan mempunyai konsekuensi besar terhadap pandangan dunia secara menyeluruh, konsekuensi yang mungkin tidak atau kurang disadari ketika permasalahan itu diangkat pertama kalinya.

Cara lain untuk mempertegas poin di atas ini adalah dengan menyatakan bahwa pertanyaan filsafat adalah pertanyaan yang secara logis bersifat fundamental. Maksudnya, jawaban terhadap pertanyaan itu pada tingkat tertentu dapat dijawab pada derajat yang kurang fundamental, kurang logis, hanya bersifat lahiriah atau aspektual. Artinya, hanya menilik satu atau sejumlah aspek saja dan tidak bersifat universal. Akhirnya, pertanyaan filsafat secara khas merupakan pertanyaan yang sangat umum (very broad generality). Jadi, bukan permasalahan individual. Pertanyaan filosofis–apakah manusia bebas hingga membuatnya secara moral wajib bertanggung jawab? – bukanlah pertanyaan tentang kebebasan individu tertentu (yang mungkin diajukan seorang psikoanalis), atau tentang sekelompok warga negara (pertanyaan khas ilmuan politik).

Akan tetapi, ini adalah pertanyaan tentang manusia seluruhnya. Untuk menjawab pertanyaan ini, kita tidak pengkaji sejarah kasus individual atau keberhasilan politik sekelompok orang. Tetapi, kita berupaya dengan tekun meneliti konsep kebebasan yang terkait dengan pelekatan tanggungjawab moral pada manusia. Kemudian kita mempertimbangkan apakah kualitas atau kekuatan ini (atau apapun yang dimaksudkan dengan ‘kebebasan’ itu) dapat dilekatkan pada manusia, dan jika memang bisa, dalam keadaan yang bagaimana.

Ciri-ciri pertanyaan filosofis ini semuanya berasal dari kenyataan bahwa tujuan umum penyelidikan filsafat adalah untuk mencapai gambaran lengkap, konsep realita yang menyeluruh dan dapat diterima sebagai kebenaran. Setiap permasalahan filsafat adalah bagian integral dari upaya yang lebih luas ini. Hanya karena kita tertarik pada kenyataan menyeluruh membuat kita tertarik mengkaji permasalahan khususnya.
Loading...