Berpikir Filsafat

Dalam membahas sistem filsafat secara menyeluruh, setelah mengetahui pemahaman dasar, subjek, objek, dan metode filsafat, pembahasan berikutnya adalah soal ciri-ciri berpikir filsafat dan langkah-langkah dalam berpikir filsafat. Ali Maksum dalam bukunya Pengantar Filsafat Dari Masa Klasik Hingga Postmodernisme menyebutkan 5 ciri-ciri berpikir filsafat, yaitu:[1]

Berpikir Filsafat

  • Berpikir radikal
Berpikir secara radikal, seorang filsuf tidak akan pernah terpaku pada fenomena entitas tertentu. Ia tidak akan pernah berhenti hanya pada suatu wujud realitas tertentu. Keradikalan berpikirnya itu senantiasa mengobarkan hasratnya untuk menemukan akar dari seluruh kenyataan. Berpikir radikal tidak berarti hendak mengubah, membuang, atau menjungkirbalikkan segala sesuatu, melainkan dalam arti yang sebenarnya, yaitu berpikir secara mendalam untuk mencapai akar persoalan yang dipermasalahkan. Berpikir radikal justru hendak memperjelas realitas lewat penemuan serta pemahaman akan akar dari realitas itu sendiri.
  • Mencari asas
Filsafat senantiasa berupaya mencari asas yang paling hakiki dari keseluruhan realitas.
  • Memburu kebenaran
Kebenaran yang diburu adalah kebenaran hakiki tentang seluruh realitas dan setiap hal yang dapat dipersoalkan. Tentu saja kebenaran yang hendak digapai bukanlah kebenaran yang meragukan. Untuk memperoleh kebenaran yang sungguh-sunguh dapat dipertanggungjawabkan, setiap kebenaran yang telah diraih harus senantiasa terbuka untuk dipersoalkan kembali dan diuji demi meraih kebenaran yang lebih pasti. Demikian seterusnya. Kebenaran filsafati terus bergerak dari suatu kebenaran menuju kebenaran yang lebih pasti. Kebenaran yang baru ditemukan itu juga terbuka untuk dipersoalkan kembali demi menemukan kebenaran yang lebih meyakinkan.
  • Mencari kejelasan
Salah satu penyebab lahirnya filsafat ialah keraguan, untuk menghilangkan keraguan diperlukan kejelasan. Mengejar kejelasan berarti harus berjuang dengan gigih untuk mengeliminasi segala sesuatu yang tidak jelas, yang kabur, dan yang gelap, bahkan juga yang serba rahasia dan berupa teka-teki. Tanpa kejelasan, filsafat pun akan menjadi sesuatu yang mistik, serba rahasia, kabur, gelap, dan tak mungkin dapat menggapai kebenaran.
  • Berpikir rasional
Berpikir secara radikal, mencari asas, memburu kebenaran, dan mencari kejelasan tidak mungkin dapat berhasil dengan baik tanpa berpikir secara rasional. Berpikir secara rasional berarti berpikir logis, sistematis, dan kritis. Berpikir logis adalah bukan hanya sekedar menggapai pengertian-pengertian yang dapat diterima akal sehat, melainkan agar sanggup menarik kesimpulan dan mengambil keputusan yang tepat dan benar dari premis-premis yang digunakan. Berpikir logis juga menuntut pemikiran yang sistematis, yang berhubungan satu sama lain dan saling berkaitan secara logis.

Berpikir kritis berarti membakar kemauan untuk terus menerus mengevaluasi argumentargumen yang mengklaim diri benar. Seorang yang berpikir kritis tidak akan mudah menggenggam suatu kebenaran sebelum kebenaran itu dipersoalkan dan benar-benar diuji terlebih dahulu.

Pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana cara memulai dan melanjutkan dalam perenungan kefilsafatan?. Louis O. Kattsoff dalam salah satu bab bukunya menyebutkan bahwa pemikiran filsafat dimulai dengan adanya masalah, setelah itu meragu-ragukan dan menguji secara rasional anggapan-anggapan yang muncul untuk kemudian memeriksa penyelesaian-penyelesaian yang terdahulu. Langkah berikutnya adalah menyarankan sebuah hipotesa yang kiranya memberi jawaban atas masalah yang anda ajukan sekaligus memberi makna dan mengajukan bukti-bukti pembenaran hipotesa yang diajukan. 2 langkah terakhir dalam perenungan kefilsafatan adalah menguji konsekuensi-konsekuensi atau verifikasi terhadap hasil-hasil penjabaran yang telah dilakukan untuk pada akhirnya menarik suatu kesimpulan.[2]

Masih terkait juga dengan sistem berpikir filsafat, dalam literatur disebutkan bahwa ada 2 pendekatan yang biasa digunakan untuk mengenal filsafat. Pertama adalah mendekati filsafat secara kronologis (khronos = waktu). Sebuah pendekatan yang mencermati pemikiran para filsuf dari waktu ke waktu dalam kurun yang berurut. Pendekatan kedua adalah mengenal filsafat dengan menggunakan pendekatan tematik. Cara ini mengarahkan kita untuk memfokuskan diri pada tema tertentu yang muncul dalam perbicangan filosofis. Pendekatan ini mengarahkan kita untuk mengetahui, berpikir, dan berbicara secara sistematis tentang tema tertentu yang kita pilih, misalnya tema mengenai kehendak bebas, jiwa, atau kebebasan.[3]

RUJUKAN

[1] Disarikan dari Ali Maksum, 2008, Pengantar Filsafat; Dari MAsa Klasik Hingga Postmodernisme, Ar-Ruzz Media, Jogjakarta, hlm. 27-30.
[2] Disarikan dari Louis O Kattsoff, 1992, Pengantar Filsafat, alih bahasa: Soejono Soemargono, Tiara Wacana, Yogyakarta, hlm. 34-37.
[3] Disarikan dari Antonius Cahyadi dan E. Fernando Manullang, 2010, Pengantar Ke Filsafat Hukum, Kencana Prenada Media, Jakarta, hlm. 18-19.
Loading...