Pengertian Shalat Idul Fitri

Yang dimaksud dua hari raya ialah Shalat hari raya Fitri dan Shalat hari raya Adha. shalat hari raya Fitri dilaksanakan pada setiap tanggal 1 Syawal, seusai umat muslim menunaikan ibadah puasa Ramahdan sebulan penuh pada setiap tahun. sedangkan shalat hari raya Adha dilaksanakan pada setiap tanggal 10 Dzulhijjah pada setiap tahun.

Diberi nama id (hari raya) karena Allah SWT pada hari id itu memberikan berbagai ihsan kepada hamba-hamba-Nya pada setiap tahun. Di antaranya, di bolehkannya makan di siang hari setelah dilarang untuk makan di siang hari selama bulan Ramahdan, dan diperintahkan untuk menunaikan zakat fitrah. karena biasanya, hari raya itu penuh dengan kebahagiaan, kesenagan dan berbagai aktivitas. Sementara keceriaannya kebanyakan terjadi karena sebab itu. Asal makna kata id sendiri secara bahasa adalah kembali, yaitu kembali dan berulangnya kebahagiaan setiap tahun.

Untuk kepentingan pembahasan, penulis akan mengemukakan beberapa pendapat ulama sebagai berikut:

Al-Allamah ar-Ranghib al-Ishfihani, memberikan ulasan tentang arti kata shalat ialah:

shalat ialah ibadah yang tertentu, asalnya ad do’a, dan dinamai ibadah ini dengan do’a seperti menamai sesuatu dengan nama sebagian apa yang ada didalamnya, dan shalat itu dari sebagian ibadah-ibadah yang diterangkan oleh syari’at itu. Walaupun berbeda gambaran-gambarannya dengan sebab perbedaan syari’at”.

Dr. Ibrahim Anis, menerangkan bahwa arti kata shalat itu ialah:

Sholat itu ialah ad do’a dikatakan: Sholla Sholatan, berdo’a dia dengan do’a. Shalat itu ialah ibadah yang tertentu yang dibina ketentuan-ketentuan waktunya dalam syari’at”.

Sayyid Sabiq memberikan ta’rif tentang shalat sebagai berikut:

Shalat itu ialah ibadah yang terdiri dari perkataan dan perbuatan tertentu yang dimulai dengan takbir bagi Allah Ta’ala dan disudahi dengan memberi salam”.

Berdasarkan uraian dan pendapat para ulama sebagai tersebut diatas, penulis menarik kesimpulan:
  • Menurut jumhur ahli bahasa dan Fuqaha bahwa kata shalat itu arti pokoknya ialah “do’a”.
  • Shalat jama’nya ialah shalawat, merupakan kata mashdar dari kata kerja shalla, artinya berbagai perkataan yang didalamnya terdapat Do’a, istighfar, tasbih sujud dan lain-lain. Dengan shalat itu bertawajjuh setiap Mu’min terhadap Tuhannya.
  • Shalat dalam pengertian istilah syara’ ialah ibadah yang terkumpul di dalamnya berbagai bacaan dan perbuatan yang tertentu, dimulai dengan bertakbir dan diakhiri dengan membaca salam, baik shalat fardhu atau shalat sunnat.

Dengan keterangan di atas, jelaslah bahwa shalat itu mempunyai arti dan nilai tersendiri dalam ibadahnya setiap Muslim, di mana segala-galanya telah ditentukan sedemikian rupa menurut ketetapan syara’.

Oleh karena itu istilah shalat dalam Islam mengandung arti dan nilai yang Qudus, baik dalam arti do’a atau dalam arti rangkaian perkataan dan perbuatan ibadah, semuanya itu harus dilaksanakan berdasarkan garis-garis yang ditentukan oleh Allah dan Rasulnya.

Setiap penyimpangan yang terjadi dari garis-garis yang telah ditentukan, maka sifat Qudus dari ibadah menjadi rusak, bahkan perbuatan ibadah itu menjadi tertolak karenanya, karena termasuk perbuatan ibadah yang muhdatsar.

Di atas penulis telah mengemukakan berbagai pendapat ulama tentang arti kata shalat, baik menurut arti bahasa atau menurut istilah. Selanjutnya, penulis akan mengemukakan arti yang terkandung dalam kata ‘id, sehingga dengan demikian dapat diketahui arti yang tepat tentang shalat ‘id. Dr. Ibrahim Anis, memberikan keterangan tentang arti kata al ‘id sebagai berikut:

“al‘id ialah apa yang kembali dari kesusahan atau penyakit atau kerinduan dan sebagainya. al‘id setiap hari berkumpul, dengan mengadakan peringatan terhadap sesuatu yang dianggap mulia atau sesuatu yang disayangi”.

Prof. T.M. Hasbi Ash Shiddieqy mengemukakan pendapatnya sebagai berikut:

id dalam pengertian bahasa sama dengan musim. Yakni musim manusia ramai-ramai berkumpul untuk merayakan sesuatu atau melaksanakan sesuatu. Kata ‘id bermakna a’aid (yang kembali lagi), diambil dari pada kata ‘aud, yang bermakna kembali kepada kesenangan, kegembiraan, memakai pakaian yang indah-indah, menikmati makanan-makanan yang lezat, seperti yang dilakukan pada hari itu dan kembali membersihkan hati dari dendam kesumat dari perangai-perangai yang keji, serta menghiaskan jiwa dengan kemesraan dan kasih sayang. dinamakan hari ‘id dengan ‘id, adalah karenah dia selalu kembali pada saatnya dan karena pada hari itu banyak benar anugerah Allah SWT yang dicurahkan kepada hamba-hamba-Nya.

Berdasarkan berbagai pendapat ulama sebagaimana tersebut di atas, penulis dapat menarik kesimpulan bahwa:
  1. Kata idain adalah kata tatsiniah dari kata mufrad al id, bentuk masdar dari kata kerja ‘ada-ya’uudu-‘audun artinya kembali, kembali berbahagia, bergembira pada saat dan waktu tertentu dengan membawa ruh dan jiwa yang suci, sebagai satu gambaran kongkrit dari adanya kebahagiaan yang hakiki. Keadaan semacam ini senantiasa kembali diperingati secara sistematis dan kontinyu.
  2. Kata ‘idain merupakan satu nama bagi dua hari raya yang sudah maklum dalam agama Islam, yang terkenal dangan sebutan Idul Fitri dan Idul Adha. Di dalamnya terdapat upacara ibadah yang khusus dalam rangka idh-harus surur, menampakkan berbagai kebahagiaan karena Allah atas segala nikmat dan karunia-Nya.

Dengan memperhatikan kedua arti dari kata shalat dan idain, maka teranglah makna yang terkandung dan yang dimaksud dengan istilah shalat Idain yaitu bentuk kongkrit dari pada kegiatan ibadah alam situasi yang serba bahagia, dimana shalatnya itu merupakan ruh dan jiwanya, yang dapat mewarnai keadaaan id nya itu sendiri. Bahkan hal itu menjadi acara puncak dan pokok dalam pelaksanaan idain menurut tuntutan syari’at Islam dan sekaligus menjadi ciri khas yang membedakan antara hari raya dalam Islam dan hari raya selain Islam.

Hari raya dalam Islam tidak bersifat maadiah, artinya hanya berhubungan dengan segi lahiriyah yang bersifat benda, sebagaimana yang banyak terjadi dilakukan oleh sebagian kelompok dalam masyarakat manusia. hari raya dalam Islam adalah ‘ta’abbudi’. Oleh karena itu ruang lingkupnya menyeluruh, berlaku bagi seluruh ummat manusia yang seasa dan sekeyakinan. Dilaksanakan oleh ummat Islam yang mempunyai prinsip keyakinan yang sama dan landasan spiritual yang sama pula, dengan berpegang teguh pelaksanaannya kepada prinsip tertentu dan sama pula. Karena pada hakikatnya hari raya dalam Islam itu adalah hari bersyukur dan hari beribadah kepada Allah SWT.

Jelas sekali tentang kedudukan hari raya dalam Islam, sudah tentu al’id yang dimaksud termasuk segala macam kegiatan ibadah yang ada di dalamnya, antara lain Ibadah shalat yang menjadi acara pokoknya. Shalat id disyari’atkan pada tahun kedua Hijriah. 8diriwayatkan dari Anas ibnu Malik ra., ia berkata,” Rasulullah SAW tiba di Madinah dan penduduk Madinah memiliki dua hari di mana mereka bermain-main pada kedua hari tersebut di masa jahiliah, kemudian Rasulullah SAW bersabda,

sesungguhnya Allah mengganti sesuatu yang lebih baik dari keduanya untuk kalian, hari Idul Fitri dan Idul Adha”(HR.Ahmad, Abu Dawud, Tirmidzi dan Nasai).

Dua hari raya di masa jahiliah adalah hari nairuz,biasanya dibulan barmahat (salah satu bulan milik kaum qibti) dipermulaan tahun Masehi ketika posisi matahari berada di bintang aries. hari raya kedua adalah hari mahrajan, yaitu hari pertama beralihnya posisi matahari ke bintang libra, biasanya di bulan taut (salah satu bulan kaum qibti). Keduanya adalah hari dengan iklim, panas dan dingin yang sedang dan waktu malam dan siangnya sama. Pendapat lain menyatakan, orang-orang bijak memilih kedua hari itu berdasarkan perhitungan ilmu astrologi. Mereka di ikuti oleh orang-orang semasa mereka. Kemudian syari’at datang meruntuhkan, membatalkan dan mengganti keduanya dengan hari Idul Fitri dan Idul Adha dan keduanya terjadi setelah melaksanakan dua rukun Islam yang agung, yaitu ibadah puasa dan haji.

Pada kedua waktu itu, Allah SWT memberikan ampunan untuk mereka yang menunaikan ibadah haji dan mereka yang berpuasa dan Allah SWT menyebarkan rahmat-Nya pada seluruh hamba-hamba yang taat.
Loading...