Filsafat Hukum Islam

Para ahli mempunyai definisi yang sangat beragam mengenai apa itu filsafat hukum Islam. Hal ini terjadi, karena filsafat hukum Islam dalam tradisi dan keilmuan Islam merupakan disiplin baru. Dalam pembidangan ilmu keislaman tradisional, filsafat hukum belum dikenal, sekalipun dalam beberapa hal, ia mempunyai kemiripan dengan usul fikih. Karena masih termasuk disiplin baru, filsafat hukum Islam masih proses pencarian bentuk bakunya. Ia tidak seperti filsafat Islam yang sudah mempunyai bentuk baku.

Dengan tidak bermaksud menyederhanakan. Dalam hal ini, penyusun mengambil definisi yang dianggap representatif dan komprehensif dari semua definisi yang diberikan oleh para ahli, yaitu, filsafat hukum Islam merupakan filsafat khusus yang objeknya tertentu, yakni hukum Islam. Artinya filsafat hukum Islam adalah filsafat yang diterapkan pada hukum Islam, di mana filsafat digunakan untuk menganalisis hukum Islam secara metodis dan sistematis sehingga mendapat keterangan yang mendasar.

Dengan rumusan lain, filsafat hukum Islam ialah pengetahuan tentang hakikat (ontologi), metode (epistemologi), tujuan dan rahasia (aksiologi) tentang hukum Islam, yang dilakukan secara ilmiah, sistematis, radikal dan dapat dipertanggung jawabkan. Dengan menggunakan filsafat sebagai instrumen analisis, layaknya filsafat pada umumya yang tidak bisa lepas dari tiga komponen: ontologi, epistemologi, dan aksiologi. Maka filsafat hukum Islam juga terkait erat dengan tiga komponen di atas, yaitu: apa ontologi hukum Islam; bagaimana epistemologi hukum Islam; serta aksiologi hukum Islam.

Rujukan:
  • Fathurrrahman Djamil, Filsafat Hukum Islam, cet. ke-1 (Ciputat: Logos Wacana Ilmu, 1997)
  • Ali Ahmad al-Jurzāwῑ, Ḥikmah al-Tasyrῑ’ wa Falasafatuhu (Bairut: Dār al-Fikr, tth).